Postingan

Side Quest Mandiri - Dari Player Untuk Player

Gambar
 Jika kalian bukan orang yang baru menemukan blog ini, kalian mungkin ingat beberapa waktu lalu saya menceritakan sebuah eksperimen GMless group play . Bagi yang baru pertama kali berkunjung ke blog ini, selamat datang! TL;DR untuk konteks: saya mengajak dua teman saya untuk mencoba main tabletop RPG, tapi alih-alih dengan gamemaster , kami menyerahkan segalanya pada Oracle aka "Kerang Ajaib". "Kerang Ajaib, apakah ini my--" "BUKAN." Memasuki "season kedua" dari sesi GMless group play , hasil roll "Kerang Ajaib" membuat kami punya side-quest dari sejak sesi pertama. Menjadikan plot (atau sub-plot?) tersebut jadi side-quest adalah keputusan bersama semua pemain. Kami sepakat sub-plot "menyelamatkan kafe lokal dari disita gara-gara hutang" tidak begitu sesuai dengan tema cerita utama dan kami juga lebih ingin mendalami plot lain daripada berkutat menyelamatkan kafe lokal ini selama entah sampai berapa sesi. Karena saya termas...

"Mana Solo Play Yang Kamu Janjikan Itu?" - Sebuah Pembelajaran

Gambar
Beberapa bulan lalu, saat saya menemukan Ultimate Solo RPG Toolkit , saya dengan penuh semangat langsung membuat karakter dan membuat janji kelanjutan kisah para karakter di postingan-postingan berikutnya. Jadi, di mana solo play yang kamu janjikan itu??? Jadi begini ceritanya ............ Saya sudah membuat tiga karakter , lengkap dengan stat mereka masing-masing. Saya sudah membuat backstory mereka, bentuknya cerita pendek , ada di draft postingan Trakteer, tapi ada yang belum selesai, jadi tidak saya rilis. Kalau tidak salah si Cedric yang ceritanya belum selesai. Mereka sudah dapat misi , mereka sudah dikirim masuk dungeon . Dungeon juga sudah dibuat berdasarkan random table (Cedric mati di encounter pertama). Lalu saya berhenti melanjutkan petualangan mereka. Lho??? Kenapa??? Alasan paling pertama adalah saya merasa tidak sreg baru masuk dungeon sudah ada karakter yang mati . Karena game system yang disertakan di Ultimate Solo RPG Toolkit banyak didasarkan Old School Renai...

"Hybrid Digital/Physical" adalah Koentji Menghadapi Mati Lampu

Gambar
Saya pertama kali main Dungeons&Dragons di awal 2010, tapi selalu menyebut diri "Generasi Pandemi" yang mainnya online pakai virtual tabletop (VTT) dan Discord voice chat . Sesi pertama saya dilaksanakan offline , pakai character sheet kertas, battlemap  " do-it-yourself " (DIY) kertas laminasi, dan token miniatur yang juga pakai kertas. Gamemaster saya saat itu memang anaknya DIY gak ribet, yang masih saya jadikan panutan sampai sekarang. Mungkin karena perdananya menggunakan kertas dan pensil, sekarang ini untuk persiapan dan catatan sesi online pun saya selalu pakai catatan di kertas. Suatu hari, saat sedang sesi Icewind Dale: Rime of the Frostmaiden, rumah saya mati lampu. Saya nggak lantas pasang teplok sih pas kejadian Untungnya, hape dan tablet saya masih nyala, jadi sambil ngabarin player via chat Discord, saya gabung ulang voice chat lewat tablet. Salah satu player berinisiatif share screen peta, jadi saya tetap bisa lihat peta. Momen ini adalah sa...

Kremuslah Keripik, Bukan Dadu (Walau Dadunya Mirip Permen)

Gambar
Tempo hari saya impulsif membeli 25 dadu sisi 10. Lima warna, masing-masing warna lima dadu. Buat apaan??? Alasan saya sih buat main 7th Sea offline . Kapan mainnya, itu gimana nanti. Hehe. Ini beneran dadu, bukan biskuit cokelat bentuk dadu Makin dillihat-lihat, 25 dadu ini makin kelihatan kayak ... permen. Dari sana saya jadi kepikiran untuk menulis postingan membahas tentang makanan atau camilan selama sesi game. Saya bukan jenis yang GMing atau main ttrpg sambil makan, tapi dengan satu sesi bisa berlangsung berjam-jam, mulai dari yang 2-3 jam, 4-6 jam, malah ada yang katanya pernah 8 jam sehari, wajar banget kalau main sambil nyemil adalah sesuatu yang umum.  Sebelum dilanjutkan, alasan saya cuma seduh teh atau kopi dan sedia air selama jadi gamemaster adalah karena saya gampang batuk. Kebanyakan keripik, batuk. Kebanyakan bala-bala, batuk. Lanjutannya batuk, bengeknya kumat. Susah mau ngomong kalo bengek kumat. Kembali ke topik. Jadi, apa kiranya makanan yang cocok buat menem...

Bukankah Solo Journaling Adalah Writing Prompt Dengan RNG?

Gambar
RNG alias Random Number Generator, istilah yang biasa disebut-sebut kalau urusannya berkaitan dengan gacha , lootbox , dan kawan-kawan sejawatnya. Probabilitas dan statistika, game of chance . ... Gampangnya sih gambling alias judi. Tapi kalau pakai kata "judi" kan konotasinya negatif. Ingat kata Bang Rhoma Irama Pembedanya adalah kalau judi menjanjikan kekuatan, RNG belum tentu menjanjikan kekuatan. Dia bahkan nggak menjanjikan apa-apa selain mengeluarkan angka acak. Sebagai penggemar sekaligus pengembang game, saya sering menyambangi situs itch.io, platform untuk distribusi dan publishing game, mayoritas game indie dan submission game jam. Keluyuran di itch.io adalah awal mulanya saya menemukan solo journaling. Apa Itu Solo Journaling? Gampangnya, kita berperan menjadi seseorang, entah seorang pengelana yang mengunjungi tempat-tempat eksotik, seorang pustakawan yang terkurung dalam perpustakaan yang akan diserang tentara musuh, seorang dokter makhluk kriptid, dan lain ...

Momen Menyadari Main TTRPG Jangan Dibuat Ribet

Gambar
Beberapa tahun lalu, saya menemukan trailer animasi yang sangat menarik yang setelah saya cari-cari ternyata adalah adaptasi anime dari sebuah campaign Call of Cthulhu oleh seorang konten kreator dari Jepang. Dari sana, saya mencari-cari lagi lebih lanjut tentang siapa orang ini, campaign aslinya seperti apa, apakah sudah diterjemahkan, dan bisa diakses publik. Lalu saya mengalami momen mindblowing . MELEDAKH Campaign Call of Cthulhu yang kemudian dijadikan film anime itu ternyata ada rekaman actual play-nya yang sekalian sudah di-edit dan dipoles sedemikian rupa jadi terlihat lumayan profesional. Di video, selain animasi dan ilustrasi, ada terselip rekaman ketika sesi berlangsung. Tidak ada wajah orang yang terlihat, tapi bisa kelihatan kalau ada tiga orang sedang duduk mengelilingi sebuah meja yang di atasnya selain ada cemilan juga ada dice set , character sheet , pensil dan penghapus. Tidak ada GM screen. Tidak ada print-out peta. Tidak ada laptop. Bahkan buku peraturan pun tidak t...

Tabletop RPG dan Novel - Saudara? Kerabat? Keluarga!

Gambar
Di tahun 2015, salah satu teman sesama penggemar anime yang mengajak nonton bareng anime berjudul Chaos Dragon. Alasan utamanya adalah kami mendengar Gen Urobochi adalah salah satu penulisnya. Dua nama lain yang juga kami dengar terlibat adalah Nasu Kinoko dan Ryogo Narita. (ada dua nama lainnya yang kami kurang familier: Izuki Kogyoku dan Simadoriru) Ini orang-orang yang kalau bikin cerita selain unik juga tragis dan/atau mind blown , mau jadi gimana ini anime ? Poster comot dari Rotten Tomatoes "Katanya ini mereka main game yang judulnya Red Dragon terus apa yang terjadi pas mereka main tu dijadiin anime ini." Dari situ saya kemudian tahu tentang apa itu replay book. Bapak dari Kotodama Heavy Industries, penerjemah dan pendistribusi game Ryuutama, punya video yang jelasin apa itu replay book dengan bagus: Tapi dengan format penulisannya, replay book masih belum cocok masuk kategori novel. Chaos Dragon yang disebut di awal postingan ini punya versi adaptasi novelnya (ka...