Momen Menyadari Main TTRPG Jangan Dibuat Ribet

Beberapa tahun lalu, saya menemukan trailer animasi yang sangat menarik yang setelah saya cari-cari ternyata adalah adaptasi anime dari sebuah campaign Call of Cthulhu oleh seorang konten kreator dari Jepang.


Dari sana, saya mencari-cari lagi lebih lanjut tentang siapa orang ini, campaign aslinya seperti apa, apakah sudah diterjemahkan, dan bisa diakses publik.

Lalu saya mengalami momen mindblowing.

MELEDAKH

Campaign Call of Cthulhu yang kemudian dijadikan film anime itu ternyata ada rekaman actual play-nya yang sekalian sudah di-edit dan dipoles sedemikian rupa jadi terlihat lumayan profesional.


Di video, selain animasi dan ilustrasi, ada terselip rekaman ketika sesi berlangsung. Tidak ada wajah orang yang terlihat, tapi bisa kelihatan kalau ada tiga orang sedang duduk mengelilingi sebuah meja yang di atasnya selain ada cemilan juga ada dice set, character sheet, pensil dan penghapus.

Tidak ada GM screen. Tidak ada print-out peta. Tidak ada laptop. Bahkan buku peraturan pun tidak terlihat.

Saya menonton video-video lanjutannya dan dengan paham sedikit-sedikit bahasa Jepang yang terdengar serta terbaca, saya menduga orang-orang ini main Call of Cthulhu di pondok tempat mereka menginap dan mereka sedang trip hiking ke gunung bersalju.

Mereka bahkan bukan main di boardgame cafe atau game store.

Sejak menemukan video ini, saya mulai memikirkan kembali perlengkapan minimal untuk menjalankan sebuah sesi game.

Sebetulnya dari awal saya mencari referensi perlengkapan GM, saya selalu tertarik dengan yang ringkas dan minimalis. Salah satu video yang saya temukan saat itu adalah:


Kebetulan setelahnya saya menemukan toko yang jualan komponen boardgame dengan harga terjangkau, jadi saya mulai menyusun GM kit ringkas versi saya sendiri.

Kotaknya bonusan Ace Hardware Azko

Setelah timbul niatan untuk lebih minimalis, saya memikirkan ulang komponen apa saja yang paling optimal untuk dibawa menjalankan sesi game. Kurang lebihnya, saya memilih: 2 dice set, kertas kosong (dipotong ukuran A6 atau A7), pensil dan penghapus, dan 2-3 spidol beda warna. Semuanya bisa muat di tas pouch kecil hadiah dari sabun.

Kelihatan lah merek sabun
yang kasih bonusan pouch

Dan, ya, saya pernah mencoba menjalankan sesi di luar boardgame cafe dengan kit yang lebih minimalis ini. Yang pertama adalah ketika diajak staycation di sebuah vila di Subang, yang kedua adalah ketika ada gathering komunitas di sebuah pujasera yang relatif sepi. Kebetulan ada teman yang berbaik hati merekam video timelapse untuk sesi Dragonbane yang dijalankan di pujasera:


Harus diakui, meskipun rasanya sudah lumayan minimalis, saya sebetulnya masih ditemani tablet untuk cek referensi aturan atau skenario. Kalau mau seratus persen minimalis, maka yang saya bawa adalah catatan di buku notes kecil saja dengan aturan game sudah terhafal di luar kepala, jadi tidak perlu kroscek-kroscek.

Lain kali hendak mencoba menjalankan sesi TTRPG, ingatlah ada orang Jepang yang main di pondok tempat mereka nginep pas hiking trip ke gunung. Bawalah yang perlu-perlu saja, hemat tempat, dan tidak butuh listrik serta internet.

Semoga postingan ini bisa jadi inspirasi menyusun persiapan gamemastering sambil tetap minimalis dan fleksibel.

N.B.: Wah, postingan kali ini lebih banyak selipan videonya daripada teksnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sesi Tanpa Gamemaster, tapi Tidak Solo???

Sudah Ada Chat GPT, Main Solo RPG Kok Masih Pake Oracle?

Solo RPG Asalnya Bukan dari Kota Solo, guys