"Mana Solo Play Yang Kamu Janjikan Itu?" - Sebuah Pembelajaran

Beberapa bulan lalu, saat saya menemukan Ultimate Solo RPG Toolkit, saya dengan penuh semangat langsung membuat karakter dan membuat janji kelanjutan kisah para karakter di postingan-postingan berikutnya.

Jadi, di mana solo play yang kamu janjikan itu???


Jadi begini ceritanya ............

Saya sudah membuat tiga karakter, lengkap dengan stat mereka masing-masing. Saya sudah membuat backstory mereka, bentuknya cerita pendek, ada di draft postingan Trakteer, tapi ada yang belum selesai, jadi tidak saya rilis. Kalau tidak salah si Cedric yang ceritanya belum selesai.

Mereka sudah dapat misi, mereka sudah dikirim masuk dungeon. Dungeon juga sudah dibuat berdasarkan random table (Cedric mati di encounter pertama).

Lalu saya berhenti melanjutkan petualangan mereka.

Lho??? Kenapa???

Alasan paling pertama adalah saya merasa tidak sreg baru masuk dungeon sudah ada karakter yang mati. Karena game system yang disertakan di Ultimate Solo RPG Toolkit banyak didasarkan Old School Renaissance (OSR) yang bisa dibilang "salah ambil keputusan dikit, fatal akibatnya" dan saya pribadi tidak 100% cocok dengan OSR. Mungkin karena saya gampang attached dengan karakter setelah membuat backstory mereka yang relatif mendetail.

Alasan kedua adalah apa yang membuat saya menulis postingan ini: menuliskan rekap sesi dengan gaya naratif itu lumayan butuh usaha.

Mungkin jika dijabarkan jadi poin-poin, maka seperti ini kurang lebihnya faktor utama sesi solo RPG saya berhenti prematur:

1. Game system yang kurang "pas"

Selain menggunakan game system bawaan Ultimate Solo RPG Toolkit yang terinspirasi dari banyak game system OSR (yang saya sebutkan di atas kalau saya kurang cocok), saya sebetulnya pernah juga mencoba menggunakan game system 7th Sea.

7th Sea menggunakan banyak D10 untuk roll-nya, membuat kurang praktis membawa-bawa dadu fisiknya; bawa cuma satu D10 jadi harus roll banyak kali, bawa segenggam D10 masih harus bawa polyhedral set. Urusan dadu ini saja sudah cukup untuk bikin saya mager lanjut.

2. Terlalu banyak karakter

Sebelum menggunakan Ultimate Solo RPG Toolkit, saya sebetulnya sudah pernah mencoba solo play dengan 4 karakter. Iya, pakai 7th Sea juga. Menggunakan 4 karakter, artinya saya harus bolak balik cek 4 character sheet yang berbeda untuk stat blok dan juga ability yang mereka punya. Harusnya sesi solo RPG yang santai, jadi tidak lagi terasa santai dengan banyaknya tab/halaman yang harus saya bolak balik.


3. Keluar effort kebanyakan untuk rekap

Saya hobi menulis. Sering gatal rasanya kalau satu gerakan menyerang lawan cuma dijabarkan dengan "si A menyerang si B, lalu si B menyerang si A" dan berakhir dengan "si A mengayunkan scimitar-nya ke arah si B, berhasil mengenai pinggangnya, namun sayang tidak dalam, dan menanggapi serangan tersebut, si B menyabetkan goloknya--yak, kena permirsa! CRITICAL!".

Yang di atas cuma contoh. Aslinya, saya nggak nulis pakai gaya komentator olahraga. Tapi harusnya sudah terbayang sekarang bagaimana saya kehabisan bensin akibat menulis seperti itu terus menerus.

Memang pada dasarnya merekap solo RPG itu singkat padat jelas saja dulu sambil interpretasi lemparan dadu. Nanti kalau gamenya sudah tamat, barulah diperdalam dan dipercantik.

Bullet Point vs Naratif

Saya mulai sadar adanya effort yang berbeda ketika menuliskan rekap sesi dengan menggunakan poin-poin (bullet point) dan gaya prosa (naratif). Saya baru sadar soal ini ketika ditanya balik oleh Google Gemini saat sedang menyusun jadwal harian yang di dalamnya ada terselip jadwal untuk main tabletop RPG.

Bullet Point itu ringkas dan langsung ke intinya. Kalau untuk mencatat apa yang terjadi sepanjang game, sudah mencukupi, tapi kurang enak dijadikan bacaan yang sifatnya hiburan.

Naratif itu lebih panjang, lebih mendetail. Cocok jadi bacaan sebagai hiburan, tapi melelahkan jika dilakukan untuk mencatat apa yang terjadi selama sesi karena butuh tenaga pikiran menerjemahkan apa yang terjadi menjadi bentuk narasi yang enak dibaca dan mudah dipahami.

Lantas gimana?

Sudah beberapa hari terakhir ini saya membuat sesi solo RPG saya menjadi "dua fase": fase roll dadu catat hasil dan fase tulis naratif. Fase pertama dilakukan di istrahat siang, fase kedua dilakukan di malam hari sebelum tidur. Tentu saja saya harus pakai naratif yang lebih seperti ringkasan cerita, bukan seperti sedang menulis novel.

Akhirnya nemu dompet yang muat
dadu dan notes dan solo toolkit

Karena menggunakan game system yang berbeda juga, sejauh ini cerita masih berjalan dengan dua karakter yang salah satunya sempat tumbang dalam combat, tapi tidak sampai mati.

Jadi apakah kita akan dapat rekap sesi solo play dalam waktu dekat?

Dengan niatan hendak merutinkan kembali update blog ini, mohon didoakan saja agar niatan tersebut dapat terlaksana. Buku catatan saya betulan sudah diisi versi naratif dari petualangan Skell dan Marduk.

Ini bukan photostock!


Komentar

  1. Sayang sekali kita tidak bisa melihat petualangan amos dkk :( emang agak gimana gitu kalo karakter yang kita buat harus mati di tengah permainan, rasanya kayak ada yang kurang kalo harus tetap dilanjutkan.
    Apapun itu, Saya sangat menantikan petualangan barunya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beberapa game system memang mengarahnya ke "kamu ceroboh ya kamu mati" plus "kamu nggak tahu yang akan menyergap kamu tu bandit atau naga". Cukup banyak yang suka krn kerasanya lebih realistis. Saya pribadi struggle buat bener2 suka. Mungkin kalau mainnya bukan solo play, tapi bareng pemain lain akan lebih enjoyable buat saya.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sesi Tanpa Gamemaster, tapi Tidak Solo???

Solo RPG Asalnya Bukan dari Kota Solo, guys

Sudah Ada Chat GPT, Main Solo RPG Kok Masih Pake Oracle?