Social Dicetancing Dengan Roll20
Pemain table top RPG biasanya minimal pernah mendengar Roll20 sebagai salah satu platform (?) untuk mengakomodasi permainan secara online, tapi seberapa banyak yang pernah menggunakannya? Diprakarsai oleh DM Dinan, kami mencoba satu sesi singkat Dungeons and Dragons di Roll20.
Ini adalah waktu yang tepat untuk menjajal Roll20 karena kami semua berstatus work from home dan tidak leluasa bepergian akibat pandemi.
Dengan fitur ini, menghitung jarak jalan dalam combat bisa dilakukan dengan mudah walaupun tidak menggunakan grid pada peta.
Terdesak oleh urusan finansial, ketiga anggota guild menerima pekerjaan tersebut, lebih-lebih setelah mendengar bayaran yang dijanjikan Von Barone.
Kami curiga Horric berbuat baik karena tidak ingin kualat setelah mengambil cukup banyak Starlight Moss dari punggung Stellasaurus pertama ini. Horric adalah yang pertama dan satu-satunya yang "memanen" Starlight Moss di combat pertama ini.
Ini adalah waktu yang tepat untuk menjajal Roll20 karena kami semua berstatus work from home dan tidak leluasa bepergian akibat pandemi.
Oneshot yang kami mainkan berjudul "Quarry - Starlight Moss", buatan DM Dinan sendiri, diperkirakan memakan waktu 5 jam, dengan komposisi kurang lebih 50% combat, 20% exploration, dan 30% social interaction (tidak perlu diragukan, social interaction yang terjadi dalam game tetap mematuhi aturan social distancing).
Tidak ada batasan Race maupun Class yang digunakan, tapi karena menggunakan character sheet yang disediakan Roll20, mayoritas Race dan Class yang tersedia mengikuti System Reference Document (SRD) alias guideline rilis/terbit di bawah Open Game License (OGL). Jumlahnya sedikit, tapi bukan berarti tidak bisa diisi dengan mengutip dari Basic Rules.
Singkat cerita, empat orang pemain mendaftar ikut oneshot ini. Sayangnya, ketika tiba harinya, satu orang menghilang tak menyahut ketika dipanggil di Discord, dan setelah menunggu setengah jam, akhirnya DM Dinan memutuskan untuk memulai permainan.
Token dan Jarak Pergerakan
Masing-masing pemain punya token dan setiap pemain bisa menggerakkan token miliknya sendiri. Seperti yang terlihat, pemain bebas memilih gambar untuk token mereka.
Peta yang digunakan di Dungeons and Dragons biasanya menggunakan kotak-kotak (grid) sebagai panduan seberapa jauh karakter bisa bergerak. Sebetulnya, bisa juga tidak menggunakan grid, tapi perlu ada standar berapa jarak yang setara dengan satu kotak.
Sama seperti di permainan offline, di Roll20, fitur grid bisa diaktifkan atau dinonaktifkan.
Lalu bagaimana mengukur jarak di Roll20, apalagi bila tidak ada grid seperti di sesi ini?
Sama seperti di permainan offline, di Roll20, fitur grid bisa diaktifkan atau dinonaktifkan.
Lalu bagaimana mengukur jarak di Roll20, apalagi bila tidak ada grid seperti di sesi ini?
Klik dan tahan pada token milik pemain, kemudian tarik dari posisi semula, lalu tekan tombol Q pada keyboard (tidak usah ditahan, cukup satu kali saja), maka akan muncul tampilan seperti ini.
Masih klik-tahan pada token, jika menekan Q satu kali lagi kemudian menggerakkan token, lalu menekan Q di setiap titik baru, maka pemain bisa mendapatkan tampilan seperti ini.
Dengan fitur ini, menghitung jarak jalan dalam combat bisa dilakukan dengan mudah walaupun tidak menggunakan grid pada peta.
Handouts
Cerita dibuka dengan tiga orang anggota guild petualang sedang berkumpul di tempat minum. Saat ini guild mereka sedang kesulitan keuangan dan Guildmaster gundah gulana melihat kondisi guild-nya. Keuangan para anggota guild juga sudah menipis, apalagi Horric (dimainkan oleh Adventurer Ray) yang doyan minum ale dan hutangnya menumpuk banyak sekali. Bolbo (dimainkan oleh Adventurer Bibits) dan Mithric (dimainkan oleh Adventurer Manda) sedikit lebih baik karena hutangnya tidak separah Horric, tapi mereka harus tetap segera mendapatkan pekerjaan kalau masih ingin makan.
Lalu datanglah seorang bangsawan bernama Von Barone ke guild, menawarkan pekerjaan: kumpulkan Starlight Moss sebanyak-banyaknya. Benda yang dimaksud oleh Von Barone rupanya tumbuh di punggung makhluk bernama Stellasaurus.
Roll20 menyediakan fitur yang memudahkan DM Dinan membagikan Handouts kepada ketiga player. Handouts tersebut berupa dua gambar: gambar Starlight Moss dan gambar Stellasaurus (yang kami cukup yakin gambar tersebut adalah dinosaurus kerabat Pterosaurus).
Jika Handouts dibuka, akan muncul pop-up seperti:
Jika Handouts dibuka, akan muncul pop-up seperti:
Terdesak oleh urusan finansial, ketiga anggota guild menerima pekerjaan tersebut, lebih-lebih setelah mendengar bayaran yang dijanjikan Von Barone.
Combat
Menuju tebing tempat Stellasaurus berada, ketiga anggota guild mendapati jalan masuk ke tebing terhalang oleh pintu batu yang bergeming walaupun sudah diketuk. Dua orang misterius datang, menawarkan kata kunci untuk membuka pintu batu, namun dengan meminta bayaran sejumlah uang yang tak dimiliki oleh Horric, Mithric, maupun Bolbo.
Combat pertama terjadi setelah Bolbo menolak membayar dan balas menodongkan panah pada kedua orang misterius.
Roll20 membuat proses berjalannya combat sangat mudah, meskipun kontrol awalnya cukup membingungkan.
Untuk menghitung Initiative, misalnya, pemain cukup memilih token miliknya, membuka Character Sheet, dan meng-klik tulisan "Initiative".
Tulisan hasil roll dadu akan muncul di chat di sebelah kanan layar. Jika serangan tersebut berhasil mengenai target, cukup klik tulisan nama senjata di chat. Roll yang muncul setelahnya menunjukkan berapa damage yang ditimbulkan oleh serangan tersebut.
Combat perdana sesi kali ini berakhir anti-klimaks setelah Bolbo mendaratkan tembakan telak pada salah satu lawan, langsung membunuhnya seketika itu juga. DM Dinan memutuskan bandit (?) yang tersisa, termasuk yang diam-diam datang hendak menyergap party, langsung ciut nyalinya melihat aksi Bolbo dan mereka memohon ampun.
Tanpa kesulitan berarti, party mendapatkan kata kunci untuk membuka pintu dan melanjutkan perjalanan.
Di group voice call, DM Dinan terdengar kagum sekaligus tak menyangka party akan lolos semudah ini dari combat pertama, tapi sepertinya tidak ada rencana yang buyar karena ini, jadi sesi pun berlanjut.
Memasuki peta selanjutnya, party langsung bertemu dengan Stellasaurus yang mereka cari.
Sementara masih belum terlihat oleh makhluk tersebut, ketiga pemain memutuskan mencoba memanjat tebing yang ada di sekitar sana, berniat melompat naik ke punggung Stellasaurus dan memangkas Starlight Moss di badannya.
Sialnya, hanya Horric yang berhasil memanjat naik. Bolbo dan Mithric (yang satu Halfling, yang satu Dwarf) jatuh ketika berusaha memanjat tebing. Horric kemudian melompat ke punggung Stellasaurus, membuat makhluk tersebut mengamuk.
It's rodeo time!
Karena combat yang terjadi sebelumnya sangat singkat, sempat terjadi kebingungan memanfaatkan fitur Roll20 (yang sudah dibahas di atas), tapi combat ini berakhir bahagia, bahkan Stellasaurus yang terkapar karena terluka pun masih sempat diobati oleh Horric (sang drunken master Monk baik hati).
Lanjut ke peta selanjutnya!
Party ternyata bertemu dengan Stellasaurus lainnya di area selanjutnya. Stellasaurus yang satu ini ternyata induk dari dua anak Stellasaurus. DM Dinan sukses membuat party terdiam dan berpikir cukup lama bagaimana sebaiknya mendapatkan Starlight Moss dari yang satu ini.
Sukses memancing dan menjegal Stellasaurus yang dewasa lalu ramai-ramai mencukur Starlight Moss dari badannya, kejutan selanjutnya datang: sejumlah monster Raptor tiba-tiba muncul dan mulai menyerang ... anak-anak Stellasaurus! Combat time lagi!
Beginilah kurang lebih penampakan area setelah combat yang cukup berdarah-darah antara party melawan para Raptor:
Setelah itu, party pun kembali ke guild membawa cukup banyak Starlight Moss. Rekor dipegang oleh Horric yang membawa total delapan kantong Starlight Moss (tapi uang imbalannya berakhir dipakai membayar hutang minum-minum).
Praktis dan jelas bisa menjadi solusi di kala para pemain tidak bisa bertemu tatap muka karena satu dan lain hal. Tools yang disediakan baik untuk DM maupun untuk pemain pun mempermudah jalannya sesi. Bahkan ada fitur memainkan musik juga untuk mendukung suasana.
Selama sesi Starlight Moss ini (yang berkat pendekatan less talking, more action berjalan dua setengah jam saja padahal awalnya diprediksi akan lima jam), komunikasi DM dan para pemain memanfaatkan group voice call Discord dan chat yang tersedia di Roll20.
Adventurer Manda sempat beberapa kali terputus dari Discord ketika menggunakan Discord di browser dan baru berhasil tersambung stabil setelah berganti menggunakan aplikasi desktop Discord. Sepertinya lebih baik menggunakan aplikasi desktop untuk performa Discord yang optimal.
Kami pikir, kalaupun komunikasi dilakukan via chat yang disediakan oleh Roll20, itu juga tidak masalah karena chat telah didesain sedemikian rupa untuk mengakomodasi sesi roleplay.
Untuk pembuatan karakter, Roll20 menyediakan step-by-step yang jelas, tapi pilihan Race, Class, dan Background tergolong sedikit jika dibandingkan dengan, misalnya, DnD Beyond. Ini karena Roll20 hanya menggunakan materi SRD seperti yang disebutkan di atas. Butuh sedikit usaha ekstra jika ingin memilih Race, Class, Background, dan lainnya yang tidak disediakan oleh Roll20.
Saran dari kami, bermainlah dengan teman dan/atau DM yang sudah berpengalaman menggunakan Roll20 karena proses mempelajari fiturnya tergolong tidak mudah, meskipun setelah paham, Roll20 praktis dan sangat mengakomodasi sesi roleplay online.
Sukses memancing dan menjegal Stellasaurus yang dewasa lalu ramai-ramai mencukur Starlight Moss dari badannya, kejutan selanjutnya datang: sejumlah monster Raptor tiba-tiba muncul dan mulai menyerang ... anak-anak Stellasaurus! Combat time lagi!
Beginilah kurang lebih penampakan area setelah combat yang cukup berdarah-darah antara party melawan para Raptor:
Setelah itu, party pun kembali ke guild membawa cukup banyak Starlight Moss. Rekor dipegang oleh Horric yang membawa total delapan kantong Starlight Moss (tapi uang imbalannya berakhir dipakai membayar hutang minum-minum).
Kesimpulan
Jadi, bagaimana kesan-kesan kami bermain menggunakan Roll20?Praktis dan jelas bisa menjadi solusi di kala para pemain tidak bisa bertemu tatap muka karena satu dan lain hal. Tools yang disediakan baik untuk DM maupun untuk pemain pun mempermudah jalannya sesi. Bahkan ada fitur memainkan musik juga untuk mendukung suasana.
Selama sesi Starlight Moss ini (yang berkat pendekatan less talking, more action berjalan dua setengah jam saja padahal awalnya diprediksi akan lima jam), komunikasi DM dan para pemain memanfaatkan group voice call Discord dan chat yang tersedia di Roll20.
Adventurer Manda sempat beberapa kali terputus dari Discord ketika menggunakan Discord di browser dan baru berhasil tersambung stabil setelah berganti menggunakan aplikasi desktop Discord. Sepertinya lebih baik menggunakan aplikasi desktop untuk performa Discord yang optimal.
Kami pikir, kalaupun komunikasi dilakukan via chat yang disediakan oleh Roll20, itu juga tidak masalah karena chat telah didesain sedemikian rupa untuk mengakomodasi sesi roleplay.
Untuk pembuatan karakter, Roll20 menyediakan step-by-step yang jelas, tapi pilihan Race, Class, dan Background tergolong sedikit jika dibandingkan dengan, misalnya, DnD Beyond. Ini karena Roll20 hanya menggunakan materi SRD seperti yang disebutkan di atas. Butuh sedikit usaha ekstra jika ingin memilih Race, Class, Background, dan lainnya yang tidak disediakan oleh Roll20.
Saran dari kami, bermainlah dengan teman dan/atau DM yang sudah berpengalaman menggunakan Roll20 karena proses mempelajari fiturnya tergolong tidak mudah, meskipun setelah paham, Roll20 praktis dan sangat mengakomodasi sesi roleplay online.











Komentar
Posting Komentar